
Penyebaran HIV di Jawa Tengah dan Upaya Pencegahan
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mencatatkan sebanyak 3.028 kasus baru infeksi HIV (ODHIV) dari Januari hingga Juni 2025. Data ini menunjukkan bahwa kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) menjadi penyumbang terbesar, yaitu sekitar 26,4 persen dari total kasus. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak dinas kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Jateng, Irma Makiah, menjelaskan bahwa penularan utama HIV berasal dari hubungan seksual. Selain LSL, populasi umum juga menyumbang sekitar 25,7 persen, sementara pasien TBC mencapai 12,5 persen. Adapun pelanggan penjaja seks, pasangan risiko tinggi, dan wanita pekerja seks masing-masing berkontribusi sebesar 8,5 persen, 5,5 persen, dan 5 persen.
Secara keseluruhan, sebanyak 71 persen dari kasus ODHIV baru yang tercatat di Jateng adalah laki-laki, sedangkan perempuan hanya 29 persen. Hingga Juni 2025, jumlah ODHIV di Jateng yang masih mengonsumsi obat ARV mencapai 22.410 orang. Kota Semarang menjadi wilayah dengan jumlah ODHIV terbanyak, yaitu sebanyak 2.997 orang atau 13,4 persen dari total kasus di provinsi tersebut.
Strategi Pemerintah dalam Mencegah Penyebaran HIV
Pemprov Jateng fokus pada upaya memutus mata rantai penularan HIV melalui beberapa strategi. Pertama, pemeriksaan dilakukan terhadap individu yang menunjukkan gejala HIV. Kedua, layanan konsultasi dan tes sukarela (voluntary consulting testing) dilakukan secara mobil ke berbagai daerah. Pemerintah juga menyasar kelompok-kelompok rentan seperti wanita pekerja seks dan LSL.
Selain itu, pemerintah juga memiliki program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mencakup layanan pengecekan HIV. Program ini juga melibatkan pemeriksaan ibu hamil untuk mendeteksi tiga penyakit utama: HIV, hepatitis, dan sifilis. Pengobatan HIV saat ini sudah masuk dalam program nasional, sehingga pasien tidak perlu membayar biaya pengobatan.
Meskipun pengobatan gratis, pemerintah tetap mendorong ODHIV untuk memiliki BPJS Kesehatan agar akses layanan kesehatan tetap bisa dilakukan tanpa biaya. Selain itu, mereka dianjurkan untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti tidak berhubungan seks secara bebas, setia pada pasangan, menggunakan kondom, serta menghindari penggunaan obat-obatan yang tidak diperlukan.
Situasi di Kota Semarang
Kadinkes Kota Semarang, M Abdul Hakam, menjelaskan bahwa selama dua tahun terakhir, kasus HIV di kota ini didominasi oleh kelompok homoseksual. Dinkes Kota Semarang aktif meningkatkan upaya screening pada kelompok rentan terinfeksi HIV.
Tren penurunan kasus positif HIV terlihat dari data tahun 2023 hingga 2025. Pada 2023 tercatat 719 kasus, 2024 sebanyak 680 kasus, dan 2025 hingga Juli hanya 294 kasus. Meski demikian, LSL tetap menjadi kelompok tertinggi yang terinfeksi.
Abdul menekankan pentingnya pemeriksaan rutin bagi kalangan homoseksual. Saat ini, Dinkes Kota Semarang memiliki 21 titik layanan untuk pemeriksaan HIV. Selain itu, petugas rutin melakukan screening di tempat-tempat seperti karaoke, panti pijat, hotel, dan kos-kosan.
Pemerintah juga menekankan pentingnya penggunaan PreP (pre-exposure prophylaxis) sebagai langkah pencegahan. Pasangan dari homoseksual dapat mengonsumsinya untuk mengurangi risiko penyebaran HIV secara signifikan. Langkah-langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam mengurangi angka infeksi HIV di Jawa Tengah.

0 Komentar