
Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia
Hari Kanker Paru Sedunia diperingati setiap 1 Agustus. Tahun ini, peringatan tersebut jatuh pada hari Jumat (1/8/2025). Pada tahun 2023, data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa terdapat sekitar 34.000 kasus baru kanker paru di Indonesia, dengan angka kematian mencapai hampir 88 persen.
Kanker paru-paru tidak hanya disebabkan oleh rokok. Ada berbagai faktor lain yang bisa memicu penyakit ini. Salah satu hal penting yang perlu diketahui adalah perbedaan antara paru-paru basah dan cairan di rongga dada. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, masyarakat dapat mengenali gejala awal dan melakukan tindakan pencegahan yang tepat.
Pentingnya Deteksi Awal
Deteksi dini menjadi kunci keberhasilan pengobatan kanker paru-paru. Semakin dini penyakit ini terdeteksi, semakin besar peluang pasien untuk pulih. Oleh karena itu, Hari Kanker Paru Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya skrining dini.
Sejarah Hari Kanker Paru Sedunia
Kanker paru-paru sebelumnya jarang ditemukan pada abad ke-19. Namun, situasi berubah drastis pada abad ke-20, seiring dengan meningkatnya polusi udara, paparan bahan kimia berbahaya, dan kebiasaan merokok yang semakin meluas. Pada tahun 2012, Hari Kanker Paru Sedunia pertama kali diperingati secara global.
Studi pada tahun 1940-an dan 1950-an menemukan bahwa merokok adalah penyebab utama kanker paru-paru. Sejak saat itu, gerakan berhenti merokok berkembang, dan Hari Kanker Paru Sedunia menjadi bagian dari upaya penyadaran masyarakat akan bahaya merokok.
Kanker Paru pada Perempuan
Meski sering diasosiasikan dengan laki-laki, kanker paru-paru juga bisa menyerang perempuan. Bahkan, sekitar 20 persen perempuan yang didiagnosis kanker paru tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Gejala kanker paru pada perempuan seringkali tidak khas dan bisa disalahartikan sebagai keluhan ringan seperti kelelahan atau nyeri punggung.
Jenis kanker paru yang paling umum menyerang perempuan adalah adenokarsinoma paru, yang biasanya tumbuh di bagian luar paru dan bisa berkembang tanpa gejala nyata. Ketika gejala mulai muncul, seperti infeksi pernapasan berulang atau batuk berdarah, kanker sudah menyebar ke organ lain.
Fenomena Kanker Paru pada Non-Perokok
Tren jumlah penderita kanker paru pada non-perokok meningkat, sementara kasus pada perokok aktif relatif stagnan. Contohnya adalah Martha (59), seorang yang tidak pernah merokok aktif tetapi akhirnya didiagnosis menderita kanker paru stadium IIIA. Ini menunjukkan bahwa risiko kanker paru tidak hanya terbatas pada perokok.
Faktor Risiko Lain
Selain merokok, paparan polusi udara juga menjadi faktor risiko penting. Kesadaran akan kualitas udara dan lingkungan yang sehat menjadi strategi pencegahan kanker paru yang penting. Banyak orang masih menganggap remeh bahaya polusi udara, padahal dampaknya bisa sangat berbahaya.
Gejala Awal yang Harus Diwaspadai
Beberapa gejala ringan bisa menjadi tanda awal kanker paru. Misalnya, batuk membandel, sesak napas, kelelahan berkepanjangan, atau nyeri punggung. Gejala-gejala ini sering kali diabaikan, padahal bisa menjadi indikasi awal penyakit yang serius.
Upaya Pencegahan dan Deteksi Dini
Menghindari rokok tetap menjadi langkah pencegahan utama. Namun, deteksi dini juga sangat penting. Masyarakat harus lebih sadar akan risiko kanker paru dan melakukan pemeriksaan rutin jika memiliki gejala yang mencurigakan.
Hari Kanker Paru Sedunia bukan sekadar acara tahunan, tetapi ajakan untuk bertindak lebih cepat. Penyakit ini tidak hanya masalah perokok, tetapi juga masalah bersama. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, masyarakat dapat mencegah dan mengatasi kanker paru lebih efektif.

0 Komentar