
Kehilangan Seorang Atlet Muda Akibat Malnutrisi di Gaza
Seorang remaja Palestina bernama Atef Abu Khater (17 tahun) meninggal dunia di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza pada hari Sabtu (2/8/2025), akibat kelaparan. Atef dikenal sebagai atlet lokal yang sebelumnya memiliki berat badan mencapai 70 kilogram, namun beratnya turun drastis menjadi hanya 25 kilogram sebelum ia meninggal.
Kondisi kritis Atef disebutkan oleh Hani Mahmoud dari Al Jazeera, yang menyatakan bahwa ia pernah menjadi juara olahraga lokal, tetapi akhirnya mengalami malnutrisi akut hingga kehilangan banyak berat badan dan meninggal dunia. Ia adalah salah satu dari ribuan kasus serupa di seluruh Gaza.
Video yang diverifikasi oleh Al Jazeera menunjukkan kerabat Abu Khater sedang mengucapkan selamat tinggal kepada tubuhnya yang sangat kurus. Dalam rekaman tersebut, tulang pipi dan tulang rusuk bocah itu terlihat jelas, menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Seorang kerabat bahkan menggerakkan jarinya di sepanjang tulang rusuk bocah tersebut, menunjukkan betapa parahnya kondisi malnutrisi yang dialaminya.
Jurnalis Wisam Shabat, yang mengunggah video tersebut di akun Instagram miliknya, menjelaskan bahwa Atef tiba di rumah sakit dalam kondisi sangat kritis, dengan komplikasi parah akibat kekurangan makanan dan perawatan medis yang tidak memadai. Direktur Rumah Sakit al-Shifa menyebutkan bahwa Atef termasuk di antara setidaknya tujuh warga Palestina yang meninggal akibat malnutrisi dalam 24 jam terakhir di Gaza.
Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, sejak perang Israel dimulai pada Oktober 2023, setidaknya 169 warga Palestina, termasuk 93 anak-anak, telah meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi. PBB dan pejabat kemanusiaan lainnya menuding pembatasan pengiriman bantuan kemanusiaan oleh Israel, meskipun sebagian telah dicabut, membuat warga Palestina kesulitan mendapatkan makanan.
Di tengah meningkatnya tekanan internasional, Israel mengklaim akan meningkatkan pengiriman bantuan, termasuk melalui airdrop. Namun, kelompok kemanusiaan menilai metode ini berbahaya dan tidak efisien. Mereka meminta Israel untuk membuka semua penyeberangan agar bantuan dapat mengalir bebas.
Selain itu, pasukan Israel sering kali menembaki warga Palestina yang mencoba mendapatkan makanan di lokasi distribusi. PBB melaporkan lebih dari 1.300 pencari bantuan telah tewas sejak operasi GHF dimulai pada Mei. Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNWRA, menuduh Israel secara aktif mencegah pengiriman bantuan kemanusiaan, yang ia anggap sebagai tindakan yang disengaja untuk menekan warga Palestina.
Anak-Anak Mati Perlahan Akibat Kelaparan
Ribuan keluarga Palestina terus mencari makanan dan kebutuhan dasar lainnya di seluruh Gaza. Banyak bayi dan anak-anak dikabarkan meninggal akibat kelaparan. Al Jazeera melaporkan bahwa beberapa ibu memberi air kepada bayi mereka karena tidak memiliki susu. Orang tua juga terpaksa berjalan jauh di bawah terik matahari untuk mencari dapur umum atau titik distribusi makanan hangat.
Namun, bahaya mengancam bagi mereka yang mencari bantuan. Bahkan jika mereka sampai di lokasi GHF, risiko terbunuh, terluka, atau pulang dengan tangan hampa sangat tinggi.
Dengan konflik yang tak henti-hentinya, pengungsian massal, akses kemanusiaan yang sangat terbatas, serta layanan kesehatan yang runtuh, krisis ini telah mencapai titik balik yang sangat mengkhawatirkan.
Hamas Menolak Melucuti Senjata
Sementara itu, pada hari Sabtu (2/8/2025), pihak Hamas menegaskan bahwa mereka tidak akan melucuti senjata kecuali negara Palestina berdiri. Negosiasi tidak langsung antara Hamas dan Israel untuk mengamankan gencatan senjata 60 hari dan kesepakatan pembebasan sandera berakhir dengan jalan buntu.
Qatar dan Mesir, yang memediasi upaya gencatan senjata, mendukung deklarasi Prancis dan Arab Saudi yang menguraikan langkah-langkah menuju solusi dua negara. Dalam pernyataannya, Hamas menyatakan bahwa mereka tidak bisa melepaskan hak untuk "melakukan perlawanan bersenjata" kecuali negara Palestina merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.
Israel menganggap perlucutan senjata Hamas sebagai syarat utama bagi kesepakatan apa pun untuk mengakhiri konflik. Namun, Hamas telah berulang kali menolak untuk meletakkan persenjataannya.

0 Komentar