3 Berita Terkini Sumbar: Harga TBS Sawit dan Bidan Berenang ke Sungai untuk Obati Pasien

3 Berita Terkini Sumbar: Harga TBS Sawit dan Bidan Berenang ke Sungai untuk Obati Pasien

Tiga Berita Populer Sumbar yang Menarik Perhatian

Selama 24 jam terakhir, berbagai berita menarik dari Sumatera Barat (Sumbar) telah menjadi sorotan. Berikut tiga berita utama yang paling banyak dibicarakan.

Harga TBS Sawit di Sijunjung Tembus Rp3.310 per Kilogram

Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat mencapai angka yang cukup tinggi. Pada tanggal 3 Agustus 2025, harga TBS di beberapa perusahaan perkebunan sawit mencapai Rp3.310 per kilogram. Hal ini dilaporkan oleh Ketua DPD Apkasindo Kabupaten Sijunjung, Bagus Budi Antoro.

Salah satu perusahaan yang menetapkan harga tersebut adalah PT Kemilau Permata Sawit (KPS). Mereka menetapkan harga Delivery Order (DO) lokal sebesar Rp3.310 dan DO Kami Saiyo sebesar Rp3.440 per kilogram. Angka ini naik Rp20 dari sebelumnya. Pemerintah provinsi melalui tim satgas harga TBS akan terus memantau perkembangan harga pasar dan melakukan penyesuaian secara berkala.

Petani sawit diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi agar bisa mengetahui perkembangan harga terbaru dan mendukung tata niaga sawit yang sehat di Sumatera Barat. Sebelumnya, pada tanggal 29 Juli 2025, harga TBS di Sijunjung juga mencapai Rp3.280 per kilogram. PT KPS menetapkan harga DO lokal sebesar Rp3.280 dan DO Kami Saiyo sebesar Rp3.420 per kilogram.

Titik Panas di Sumatera Capai 273, Sumbar Hanya 6 Titik

Pemantauan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa sebanyak 273 titik panas terpantau di wilayah Pulau Sumatera pada Minggu (3/8/2025). Riau menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yaitu 222 titik panas. Sementara itu, Sumatera Barat hanya mencatatkan 6 titik panas.

Data ini didapatkan melalui pemantauan citra satelit. Kabupaten Rokan Hilir di Riau menyumbang 184 titik panas, menjadikannya kontributor terbesar di Pulau Sumatera. Di kabupaten lain seperti Bengkalis dan Siak masing-masing memiliki 22 dan 9 titik panas. Wilayah-wilayah lain di Riau seperti Kota Dumai, Pelalawan, Rokan Hulu, dan Indragiri Hilir juga mengalami peningkatan jumlah titik panas.

Menurut informasi dari BMKG Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Bella R Adelia, provinsi-provinsi lain di Sumatera yang mencatatkan titik panas hari ini antara lain Bangka Belitung dengan 13 titik, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara masing-masing 10 titik, Jambi 8 titik, Sumatera Barat 6 titik, Aceh 3 titik, dan Lampung 1 titik.

Peningkatan jumlah hotspot ini patut menjadi perhatian, karena cuaca panas dan angin kencang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Kondisi ini juga berpotensi memperburuk kualitas udara di Riau. BMKG mengimbau masyarakat dan pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan karhutla seperti Rokan Hilir, Bengkalis, dan Siak. Koordinasi lintas sektor diperlukan untuk mencegah meluasnya kebakaran.

Bidan di Pasaman Berenang Seberangi Sungai demi Obati Pasien

Sebuah video viral di media sosial menunjukkan aksi heroik seorang bidan di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Dona (46), warga Desa Andilan, Jorong Setia, Nagari Simpang Tonang Selatan, Kecamatan Dua Koto, rela berenang menyeberangi sungai aliran deras demi mengobati pasiennya.

Dalam tayangan tersebut, terlihat Dona berjuang menyeberangi arus sungai sambil menggendong tas yang diduga berisi obat-obatan dan alat medis. Di seberang sungai, tampak seseorang merekam momen tersebut sambil menunggu sang bidan tiba di daratan.

Dona menceritakan bahwa aksi nekat tersebut terjadi pada Jumat (1/8/2025) pagi, saat ia hendak mengunjungi seorang pasien di Jorong Sinuangon, Nagari Cubadak Barat, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman. Saat itu, ia baru pulang dari pelatihan di Pekanbaru. Pasien sudah lama menghubungi minta diobati.

Namun di tengah perjalanan menggunakan ojek yang disewa seharga Rp400 ribu untuk pulang pergi, ia mendapat kabar bahwa jembatan penghubung satu-satunya antara dua nagari telah roboh akibat diterjang arus sungai. Akhirnya, Dona memutuskan untuk menyeberangi sungai tanpa persiapan khusus.

Ia mengungkapkan bahwa jarak dari tempat tinggalnya ke lokasi pasien sekitar 27 kilometer, melewati hutan dan jalanan yang rusak parah. Meski di desa tersebut ada bidan lainnya, masyarakat tetap mempercayakan pengobatan kepada Dona karena kedekatannya dengan warga.

Dona mengaku berani menyeberangi sungai karena memiliki kemampuan berenang yang baik sejak sekolah. Ia bahkan sempat ikut lomba renang saat SMA. Kini, pasien yang dikunjunginya sudah sembuh. Dona berharap pemerintah segera memperbaiki infrastruktur di wilayah tersebut, terutama jalan dan jembatan penghubung antar nagari.

Posting Komentar

0 Komentar