
Penyu di Laut Indonesia Memiliki Sidik Jari Genetik yang Unik
Penyu yang hidup di perairan Indonesia memiliki ciri khas yang unik, yaitu sidik jari genetik. Temuan ini menjadi penting dalam upaya melindungi penyu dengan strategi konservasi yang lebih efektif dibandingkan pendekatan tradisional.
Sebelumnya, konservasi penyu sering kali mengandalkan metode visual seperti menghitung jumlah sarang, memantau lokasi pendaratan, dan memperkirakan populasi. Namun, cara-cara ini masih kurang mampu menjawab pertanyaan tentang asal-usul dan hubungan antar populasi penyu yang tersebar luas oleh jarak, waktu, serta arus laut. Dengan pemetaan genetik, para peneliti berharap dapat melacak silsilah penyu hingga mengetahui seberapa erat hubungan antar kelompok dari satu pulau ke pulau lainnya.
Pemetaan genetik tidak hanya membantu dalam menyelamatkan penyu, tetapi juga bisa menyambungkan kembali hubungan kehidupan yang selama ini terputus. Hal ini menjadi fokus utama dalam penelitian yang dilakukan oleh Beginer Subhan, peneliti dari IPB University.
Penelitian Genetika Penyu di Indonesia
Beginer menjelaskan bahwa ada dua penelitian yang telah dilakukan untuk memetakan genetika penyu di Indonesia. Salah satunya adalah penelitian terbaru terhadap penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di wilayah Laut Jawa pada tahun lalu. Mereka menganalisis bagian DNA spesifik yang disebut d-loop dari 152 individu penyu yang bertelur di enam lokasi berbeda. Hasilnya, ditemukan 20 jenis haplotipe atau "sidik jari genetik", di mana 13 di antaranya merupakan temuan baru yang menunjukkan kekayaan genetik penyu sisik Indonesia.
Beberapa haplotipe juga ditemukan di Malaysia dan Australia, menunjukkan adanya hubungan genetik lintas negara. Ini mengindikasikan bahwa penyu bergerak dalam skala besar ribuan kilometer, namun tetap kembali ke tempat asal untuk bertelur. Temuan ini menegaskan pentingnya kerja sama konservasi lintas negara karena populasi penyu tidak mengenal batas negara, tetapi bergerak mengikuti arus, suhu, dan insting alami mereka.
Penelitian kedua dilakukan terhadap penyu lekang (Lepidochelys olivacea) pada 2020, salah satunya fokus pada Teluk Cendrawasih, wilayah timur Indonesia yang dikenal sebagai surga bawah laut. Tim peneliti menemukan bahwa populasi penyu dari Kwatisore dan Pulau Yapen memiliki komposisi genetik yang berbeda meskipun secara geografis tidak terlalu jauh. Diduga hal ini disebabkan oleh arus laut selama musim angin barat laut yang berfungsi sebagai penghalang alami, menghambat pertukaran genetik antarpopulasi.
Perbedaan Genetik Antar Daerah
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa konservasi tidak bisa disamaratakan. Populasi penyu dengan genetik berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Di daerah dengan keragaman genetik tinggi, strategi pelestarian harus fokus menjaga variasi agar tidak hilang. Sebaliknya, di wilayah dengan pertukaran genetik rendah, perlu pendekatan yang bisa menjaga populasi agar tidak menyusut akibat perkawinan sedarah atau jumlah individu yang terlalu sedikit.
Fakta ini menegaskan bahwa penyu di Indonesia tidak bisa lagi diperlakukan sebagai satu populasi tunggal. Setiap populasi memiliki keunikan masing-masing. Jika satu populasi punah, misalnya di Teluk Cendrawasih, maka haplotipe yang hanya ada di sana bisa hilang selamanya—tidak bisa digantikan oleh populasi dari Aceh, apalagi dari Australia.
Manfaat Pemetaan Genetik untuk Konservasi
Pengetahuan tentang struktur genetika ini membuka pintu untuk menyusun rencana konservasi yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Selain menjaga lingkungan, upaya ini juga mencakup ranah ekonomi lokal, budaya pesisir, hingga industri pariwisata yang bergantung pada keindahan laut. Dengan pendekatan berbasis genetika, konservasi penyu bisa lebih efektif dan berdampak jangka panjang.

0 Komentar