Bahaya Suara Kencang pada Pendengaran, Ini Penjelasan Dokter!

Featured Image

Fenomena Sound Horeg dan Bahaya yang Mengancam Pendengaran

Istilah sound horeg kini sedang menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat. Istilah ini merujuk pada sistem audio besar yang menghasilkan suara sangat keras. Fenomena ini mulai muncul di beberapa wilayah Indonesia, terutama dalam acara karnaval atau pawai. Di beberapa daerah, sound horeg dianggap sebagai bagian dari tradisi setempat yang biasa saja dan bahkan menjadi hiburan. Namun, sebagian masyarakat yang tidak menyukainya merasa terganggu karena khawatir akan merusak pendengaran.

Pertanyaannya adalah, apakah paparan suara keras dari sound horeg benar-benar bisa merusak pendengaran? Untuk menjawab hal ini, dr. Ashadi Budi, Sp. T.H.T.B.K.L selaku Dokter Spesialis THT, bedah kepala dan leher di RP Pondok Indah Bintaro memberikan penjelasan tentang bahaya paparan suara keras pada telinga.

Suara Keras yang Berlangsung Lama Berisiko Rusak Pendengaran

Sound horeg biasanya diputar dengan volume yang sangat keras dan menggelegar. Dalam beberapa video yang beredar di media sosial, suara tersebut bahkan mampu merusak kaca dan tembok rumah yang lokasinya berdekatan. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian orang, karena tingkat kebisingan sound horeg dirasa melebihi batas wajar.

Menurut dr. Ashadi, suara yang diputar dengan sangat keras dan lama dapat berisiko merusak pendengaran. “Jadi sound horeg itu sendiri adalah speaker yang dikeraskan sedemikian rupa dan musik yang diputar ya, keras sekali dan lama sekali. Apakah itu beresiko untuk merusak pendengaran? Ya, artinya pendengaran kita kalahnya itu dengan suara yang keras dan suara yang lama,” ujar dokter tersebut.

Sound Horeg Memiliki Desibel Suara yang Tidak Aman

Kerusakan pada sistem pendengaran dipengaruhi oleh intensitas dan durasi dari paparan suara tersebut. Semakin lama mendengar suara yang tingkat kebisingannya di atas rata-rata, maka risiko kerusakan pendengaran juga semakin besar.

“Suara mesin itu kan ya konsistensi itu akan keras terus. Nah kalo misalnya diberikan sekian decibel selama sekian waktu, itu beresiko menurunkan pendengaran,” ungkap dr. Ashadi.

Diketahui bahwa sound horeg memiliki intensitas suara sekitar 120-130 dB (desibel). Intensitas suara ini setara dengan suara pesawat jet yang berpotensi merusak pendengaran.

Sound Horeg Berisiko Rusak Pendengaran Permanen

Risiko kerusakan pendengaran akibat suara yang terlalu keras dan melampaui batasan wajar tidak boleh disepelekan karena dampaknya bisa fatal. Menurut dokter, suara yang terlalu keras dan menggelegar dari speaker sound horeg ini berisiko menurunkan pendengaran karena suara dari mesin paparannya konsisten.

“Jadi semakin keras suara kita dengarkan dan semakin lama akan beresiko merusak pendengaran. Jangan salah, kerusakan pendengarannya bisa permanen, jadi bukan kerusakan pendengaran yang beberapa saat saja, itu bisa permanen,” tuturnya.

Dr. Ashadi juga menjelaskan bahwa orang yang pekerjaannya atau sehari-hari terpapar suara dengan intensitas dan durasinya tidak dalam batas wajar lebih berisiko mengalami kerusakan pendengaran secara permanen. Sayangnya, kebanyakan orang justru tidak sadar dan cenderung abai terhadap bahaya ini.

Desibel Suara yang Aman untuk Telinga Menurut WHO

Intensitas suara dari sound horeg melewati batas maksimal suara yang aman untuk telinga. Menurut World Health Organization (WHO), intensitas yang aman untuk pendengaran manusia adalah di bawah 85 dB untuk durasi maksimal 8 jam.

Dr. Ashadi menghimbau masyarakat agar lebih bijak dalam mengontrol paparan suara yang sehari-hari biasanya didapat dari perangkat earphone, speaker, atau perangkat audio lainnya.

Untuk menjaga telinga agar tidak berisiko kehilangan pendengaran, ada aturan yang dapat dibiasakan saat ingin mendengarkan audio atau musik lewat perangkat. Aturan 60/60 dapat menjadi cara untuk menjaga pendengaran tetap normal dan terhindar dari risiko kerusakan.

“Ada rule-nya, 60 minutes 60 persen. Ini kita ngomongin perangkat yang normal. Tapi kalo yang sudah dimodifikasi, mungkin lain lagi. Nah artinya gini, kalo misalnya suka banget dengerin musik, ya kecilin volumenya, mungkin 50 persen kalo mau lebih dari 1 jam. Mau lebih lama lagi turunin lagi volumenya,” jelas dr. Ashadi.

Pentingnya Pencegahan untuk Menjaga Kesehatan Telinga

Jika terdapat kerusakan pada telinga, hanya alat bantu dengar atau operasi yang dapat menjadi harapan untuk mengembalikan sistem pendengaran. Meskipun saat ini teknologi semakin canggih dengan adanya Timpanoplasti (operasi perbaikan gendang telinga) yang juga tersedia di RS Pondok Indah Bintaro, tindakan pencegahan tetap harus diupayakan terlebih dahulu.

Sound horeg memang menjadi hiburan yang dapat menghadirkan euforia dan kebahagiaan bagi sebagian orang. Namun berbagai risiko yang ada membuat paparan audio yang terlalu kencang ini tidak disarankan dalam kacamata medis.

Posting Komentar

0 Komentar