
Pentingnya Persiapan Bekal untuk Kehidupan Akhirat
Kematian adalah hal yang pasti dalam kehidupan manusia. Ia bisa datang kapan saja, tanpa pernah terduga. Bahkan, kematian bisa menghampiri mereka yang tampak sehat dan kuat. Namun, sering kali kita lupa akan kematian karena terlalu sibuk dengan kehidupan duniawi. Kita merasa bahwa kematian masih jauh dan tidak perlu dipersiapkan secara serius.
Jika kematian tiba saat kita belum siap, maka itu akan menjadi musibah terbesar. Karena kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu, cara terbaik adalah selalu merasa dekat dengan kematian agar dapat mempersiapkan diri dengan baik. Ketika melaksanakan ibadah, kita harus merasa bahwa hari ini bisa menjadi hari terakhir kita. Dengan demikian, kita bisa menjalankan ibadah dengan totalitas dan kesungguhan.
Mengingat Ajal yang Tidak Diketahui Waktunya
Dalam khutbah Jumat, para ulama menekankan bahwa ajal tidak diketahui waktunya. Tidak ada yang tahu apakah ia akan bangun esok pagi atau tidak. Kematian bisa menjemput di tengah tawa, di tengah rencana, atau bahkan ketika kita merasa paling aman. Allah berfirman dalam Alquran:
"Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan."
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kematian akan datang pada waktunya, tanpa bisa ditunda atau dimajukan. Karena itu, kita harus senantiasa mempersiapkan diri dengan melakukan amal saleh dan kebaikan.
Menjadi Lebih Siap dengan Amal Saleh
Allah juga berfirman dalam Alquran:
"Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat."
Ini menjadi pengingat bahwa kebaikan dan ketakwaan adalah bekal terbaik untuk kehidupan akhirat. Kita harus memperbanyak amal saleh, karena hanya itulah yang akan kita bawa setelah kematian.
Memanfaatkan Profesi untuk Kebaikan
Setiap profesi memiliki peran dalam persiapan bekal akhirat. Pegawai dan karyawan harus bekerja dengan jujur dan amanah. Pejabat harus memanfaatkan jabatan untuk melayani, bukan mencari keuntungan pribadi. Petani dan buruh harus niatkan kerja keras sebagai bentuk ibadah. Pedagang dan pelaku usaha harus jujur dalam bisnis, hindari riba, dan memberikan pelayanan yang baik.
Suami dan istri juga memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami harus menjadi pemimpin yang adil, sedangkan istri harus menjadi penyejuk dan penuntun. Semua pekerjaan, baik besar maupun kecil, jika dilakukan dengan niat ikhlas dan membawa manfaat, akan bernilai pahala di sisi Allah.
Mempersiapkan Diri Sejak Dini
Para ulama sangat takut menyia-nyiakan satu hari pun tanpa melakukan kebaikan. Bahkan, ada yang selama tiga puluh tahun mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Ini seperti yang ditulis oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin:
"Aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian sejak tiga puluh tahun yang lalu. Maka andai saja kematian datang menjemputku sekarang, aku tidak akan ingin menunda satu urusan pun dari urusan yang lain."
Kesimpulan
Kematian tidak menunggu kita bertobat, tidak menunggu anak kita besar, atau impian kita selesai. Ia datang seketika, kadang di waktu kita belum benar-benar siap. Oleh karena itu, mari kita perbanyak amal yang bermanfaat. Amal yang menyejukkan pusara, yang memberatkan timbangan, dan yang menyelamatkan kita dari penyesalan.
Semoga khutbah ini menjadi peringatan yang menggugah hati kita, menjadi pelita yang menuntun langkah kita untuk senantiasa mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan abadi. Amin ya rabbal alamin.

0 Komentar