9 Perubahan Tubuh Saat Berhenti Menyusui

Featured Image

Perubahan Tubuh Saat Berhenti Menyusui

Berhenti menyusui bukan hanya sekadar menghentikan pemberian ASI. Ini adalah fase baru dalam perjalanan seorang ibu, yang bisa membawa berbagai perasaan dan pengalaman. Proses penyapihan ini bisa menimbulkan rasa lega, haru, atau bahkan kebingungan. Setiap ibu memiliki pengalaman yang berbeda-beda selama masa ini.

Tidak ada cara yang benar atau salah dalam menjalani proses penyapihan. Yang jelas, memahami apa yang terjadi pada tubuh saat berhenti menyusui dapat membuat proses ini lebih terkendali dan nyaman. Berikut beberapa perubahan yang mungkin terjadi:

1. Perubahan Suasana Hati

Ketika berhenti menyusui, kadar hormon seperti oksitosin dan prolaktin mulai turun. Keduanya dikenal sebagai "hormon keibuan" karena berperan dalam rasa cinta, ketenangan, dan keterikatan. Perubahan ini bisa memengaruhi suasana hati, sehingga banyak ibu merasa sedih, murung, atau mudah tersinggung. Jika merasa kesedihan atau kehilangan, ini wajar. Pastikan untuk tidak memaksakan diri jika belum siap untuk menyapih.

2. Masalah Kulit

Perubahan hormon saat menyapih bisa menyebabkan jerawat. Hormon prolaktin dan oksitosin menurun, sementara estrogen dan progesteron meningkat. Hal ini bisa meningkatkan produksi minyak alami (sebum) yang menyumbat pori-pori. Namun, beberapa perubahan kulit seperti stretch mark atau perubahan warna areola biasanya akan membaik setelah menyapih.

3. Menstruasi Tidak Teratur

Selama menyusui, kadar estrogen rendah dan prolaktin tinggi, yang membantu menekan menstruasi. Ketika menyapih, hormon-hormon ini kembali normal, yang bisa menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur. Beberapa periode pertama mungkin anovulasi, artinya menstruasi terjadi tanpa ovulasi. Jika kondisi ini berlangsung lama, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

4. Merasa Lelah

Menyusui membutuhkan energi ekstra, sehingga banyak ibu merasa lelah. Setelah menyapih, tubuh mungkin masih mengalami kelelahan akibat perubahan hormon dan penyesuaian jadwal tidur. Kombinasi antara kelelahan dan perubahan suasana hati bisa menjadi tanda depresi pascapersalinan. Jika gejala ini berlanjut, segera cari bantuan medis.

5. Gejala Mirip Flu hingga Risiko Mastitis

Hormon yang berfluktuasi bisa menyebabkan gejala mirip flu, seperti demam, menggigil, dan berkeringat. Jika disertai pembengkakan payudara atau nyeri, ini bisa menjadi tanda mastitis, yaitu infeksi payudara. Segera konsultasi dengan dokter jika gejala ini muncul.

6. Masih Memproduksi ASI

Setelah menyapih, produksi ASI bisa terus berlangsung selama beberapa bulan. Tubuh butuh waktu untuk belajar menghentikan produksi ASI. Jika sering memerah ASI atau menstimulasi puting, produksi ASI bisa tetap berlangsung. Ini karena rangsangan tersebut memberi sinyal kepada tubuh bahwa ASI masih dibutuhkan.

7. Libido Meningkat

Beberapa ibu merasa libido meningkat setelah menyapih. Hal ini dikarenakan kadar estrogen meningkat dan kelelahan yang berkurang. Namun, setiap orang memiliki pengalaman berbeda. Beberapa mungkin masih merasa tidak siap untuk berhubungan intim setelah menyapih.

8. Payudara Terasa Sakit

Payudara bisa terasa sakit atau bengkak saat menyapih, terutama jika ASI tidak dikosongkan. Pembengkakan ini bisa menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Selain itu, saluran ASI yang tersumbat juga bisa muncul. Pemijatan dan ekspresi ASI bisa membantu mengurangi gejala ini.

9. Berat Badan Naik

Kebutuhan kalori saat menyusui meningkat, sehingga banyak ibu merasa lapar dan makan lebih banyak. Setelah menyapih, kebutuhan kalori berkurang, yang bisa menyebabkan perubahan nafsu makan dan fluktuasi berat badan. Jika kebiasaan makan tidak diubah, berat badan bisa bertambah.

Berhenti menyusui adalah langkah besar dalam perjalanan menjadi ibu. Meskipun proses ini bisa disertai ketidaknyamanan fisik atau mental, semua itu merupakan bagian dari penyesuaian tubuh. Dengan memahami perubahan yang terjadi dan memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi, perempuan bisa melewati masa ini dengan lebih tenang. Jangan ragu untuk mencari dukungan, baik dari tenaga medis maupun orang terdekat, karena kesehatan dan kenyamanan ibu sama pentingnya dengan tumbuh kembang si kecil.

Posting Komentar

0 Komentar