
Menghindari Cedera Akibat FOMO dalam Olahraga Lari
Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga lari semakin populer di kalangan masyarakat. Berbagai acara seperti fun run, komunitas lari pagi, hingga ajakan dari para influencer olahraga membuat banyak orang tertarik untuk ikut berlari. Namun, di balik antusiasme tersebut, ada fenomena yang perlu diperhatikan: rasa takut ketinggalan tren atau FOMO (Fear of Missing Out) bisa memicu cedera serius.
Rasa ingin tampil aktif di media sosial, atau termotivasi oleh capaian orang lain, membuat sebagian pelari pemula langsung melakukan latihan dengan intensitas tinggi tanpa persiapan yang cukup. Padahal, tubuh manusia memiliki batasan dan membutuhkan adaptasi. Untuk menghindari cedera akibat FOMO, berikut 5 tips aman berlari yang wajib diketahui:
Dengarkan Tubuhmu, Bukan Tren
Saat melihat seseorang lari 10 km setiap hari di media sosial, jangan langsung merasa harus menirunya. Setiap orang memiliki kondisi fisik dan riwayat kesehatan yang berbeda. Penting untuk mendengarkan sinyal tubuhmu sendiri:
- Jika kamu baru mulai, fokus pada durasi dan intensitas rendah
- Jangan memaksakan diri saat badan terasa lelah atau sakit
- Buat jadwal lari yang realistis sesuai kemampuan
Dengan mengikuti ritme tubuh sendiri, kamu akan membangun fondasi yang lebih kuat dan menghindari overtraining.
Mulai dari Dasar: Pemanasan dan Pendinginan Itu Wajib!
Pemanasan yang tepat akan mempersiapkan otot, sendi, dan jantung menghadapi intensitas olahraga. Sementara pendinginan membantu menurunkan detak jantung secara bertahap dan mencegah nyeri otot. Idealnya:
- Pemanasan: 5–10 menit, bisa berupa jalan cepat, dynamic stretching, atau gerakan mobilitas
- Pendinginan: 5 menit jalan santai, lalu static stretching
Jangan langsung mulai sprint atau berhenti mendadak setelah lari. Hal ini bisa memicu kram hingga cedera otot.
Pilih Sepatu Lari yang Sesuai dan Nyaman
Banyak cedera lari berasal dari penggunaan sepatu yang tidak tepat. Hindari tergoda membeli sepatu hanya karena tampilannya keren atau dipakai selebgram. Perhatikan hal-hal berikut:
- Bentuk kaki (pronasi, netral, supinasi)
- Lokasi lari (aspal, trail, treadmill)
- Bantalan dan support sesuai kebutuhan
Brand seperti Asics, Adidas, New Balance, atau Skechers punya seri khusus untuk pelari pemula dengan harga terjangkau.
Lari dengan Teknik yang Benar
Teknik lari yang buruk bisa menyebabkan cedera lutut, pinggul, atau pergelangan kaki. Beberapa hal yang bisa kamu perhatikan:
- Postur: Badan tegak, jangan membungkuk
- Langkah: Jangan terlalu lebar, usahakan mendarat di bagian tengah kaki
- Ayunan tangan: Sejajar dengan pinggang, jangan terlalu naik atau turun
Banyak pelari pemula mengabaikan teknik dasar karena fokus pada kecepatan dan jarak. Padahal, teknik ini justru menentukan kelangsungan aktivitas jangka panjang.
Jangan Lupa Istirahat dan Recovery
Tubuh perlu waktu untuk memperbaiki otot yang bekerja keras selama lari. Jika kamu berlari setiap hari tanpa istirahat, risiko cedera seperti shin splint, ITB syndrome, atau tendonitis meningkat. Solusi terbaik:
- Sisipkan 2 hari istirahat dalam seminggu jika kamu lari rutin
- Gunakan hari istirahat untuk aktivitas ringan seperti yoga atau jalan kaki
- Cukupi konsumsi air, protein, dan tidur yang berkualitas
Recovery bukan berarti malas, tapi bagian penting dari proses adaptasi dan peningkatan performa.
Lari bisa menjadi olahraga yang menyenangkan, murah, dan menyehatkan—asal dilakukan dengan cara yang benar. Jangan sampai dorongan FOMO membuatmu cedera dan malah berhenti berolahraga sama sekali. Ingat, yang paling penting dalam olahraga bukan kecepatan atau pamer hasil, tapi konsistensi dan keberlanjutan.

0 Komentar