
Upaya Pemerintah Kabupaten TTS dalam Menghadapi Kasus AIDS
Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) terus berupaya mengoptimalkan langkah-langkah untuk mencapai target Zero AIDS. Meskipun ada tantangan yang dihadapi, Kadis Kesehatan TTS, dr. R.A Karolina Tahun tetap optimis bahwa kebijakan ini dapat diwujudkan.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan TTS, pada tahun 2024 tercatat sebanyak 8.819 kasus yang terskrining. Dari jumlah tersebut, 79 orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan, 65 ODHIV yang minum ARV, dan tiga orang meninggal. Sementara itu, hingga bulan Juli 2025, terdapat 5.120 kasus yang terskrining, dengan 46 ODHIV baru ditemukan, 30 ODHIV yang konsumsi ARV, dan delapan orang meninggal dunia. Data ini menunjukkan peningkatan jumlah kematian dari tahun 2024 hingga Juli 2025.
dr. Karolina menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah didasarkan pada rekomendasi WHO yaitu Zero AIDS, yang meliputi Nol Infeksi Baru, Nol Kematian akibat AIDS, serta Nol stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan terus memperkuat program ini.
Kelompok Beresiko dan Penyebab Penularan
Kelompok yang paling rentan terinfeksi HIV di TTS adalah ibu hamil. Hal ini ditemukan saat dilakukan triple eliminasi, yaitu penghapusan HIV, Sifilis, dan Hepatitis. Menurut dr. Karolina, kelompok beresiko umumnya memiliki perilaku seks yang tidak sesuai atau menyimpang, seperti laki-laki suka laki, wanita suka wanita, atau hubungan seksual tanpa pasangan resmi tanpa alat pelindung.
Untuk mencegah penyebaran HIV, Dinas Kesehatan TTS telah melakukan berbagai upaya, termasuk pencegahan dini dan pengobatan ARV. Pengobatan ARV sudah tersedia di puskesmas, dan pihaknya telah melatih dua angkatan tenaga medis, termasuk dokter, analis, dan bidan, agar bisa menangani kasus-kasus HIV.
Pencegahan dengan Metode ABCDE
Dalam pencegahan penularan HIV, Dinas Kesehatan TTS gencar melakukan sosialisasi pencegahan dengan metode ABCDE. Lima langkah utama dalam pencegahan ini meliputi:
- Abstinence: Tidak melakukan hubungan seksual dengan yang bukan pasangan.
- Be Faithful: Setia dengan pasangan.
- Condom: Menggunakan kondom sebagai alat pelindung.
- Drug No: Tidak mengonsumsi narkoba.
- Education: Sosialisasi, pencegahan, dan pengobatan.
Selain itu, para tenaga kesehatan (nakes) juga diminta untuk menggunakan APD saat menjalankan tugas mereka.
Tantangan dalam Penanganan AIDS
Meski ada banyak upaya yang dilakukan, dr. Karolina menyebutkan beberapa tantangan dalam penanganan kasus AIDS. Salah satunya adalah stigma yang masih marak di masyarakat. Banyak orang percaya bahwa HIV/AIDS adalah penyakit kutukan yang menimpa orang yang melakukan dosa. Hal ini menyebabkan diskriminasi terhadap ODHIV.
Selain itu, ada juga tantangan dari sisi pasien sendiri, yakni kurangnya keinginan untuk minum obat. Obat ARV harus diminum seumur hidup, dan jika tidak diminum, risiko kematian meningkat.
Pesan untuk Masyarakat
dr. Karolina menegaskan bahwa pasien HIV membutuhkan dukungan, bukan diskriminasi. Meskipun obat tidak bisa menyembuhkan, obat tersebut bisa memperpanjang usia hidup pasien. Ia berharap masyarakat lebih peka dan memberikan dukungan kepada ODHIV, terutama bagi mereka yang belum minum obat.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil, pemerintah TTS berharap dapat menekan angka infeksi baru, kematian akibat AIDS, serta mengurangi stigma terhadap ODHIV.

0 Komentar