
Penemuan Terbaru dalam Pencegahan Kanker Payudara
Kanker payudara menjadi salah satu penyakit yang paling umum menyerang wanita di seluruh dunia dan sering kali menjadi penyebab utama kematian akibat kanker. Dalam pengobatan, metode seperti kemoterapi sering menghadapi tantangan karena efektivitas yang tidak optimal dan munculnya resistensi obat. Hal ini disebabkan oleh metabolisme sel kanker yang tinggi, yang ditandai dengan peningkatan enzim Glutathione S-Transferase (GST). Para ilmuwan terus berupaya mengembangkan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kanker payudara.
Terobosan Penting dalam Pengembangan Pencegahan
Para ilmuwan dari Cancer Research UK Scotland Institute dan University of Glasgow berhasil menemukan metode baru untuk menghentikan penyebaran kanker payudara. Penelitian yang dilakukan oleh Jim Norman dan Karen Blyth menunjukkan perubahan metabolisme signifikan dalam tubuh sebelum kanker mulai menyebar. Temuan ini membuka peluang baru untuk intervensi dini yang lebih efektif. Dengan mendeteksi perubahan tersebut sejak awal, terapi dapat difokuskan untuk menghentikan pergerakan sel kanker dan mencegah terbentuknya tumor baru di lokasi lain dalam tubuh.
Cassie Clarke, pimpinan studi dari Cancer Research UK Scotland Institute dan University of Glasgow, menyatakan bahwa penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang pencegahan penyebaran kanker payudara. "Dengan menargetkan perubahan metabolisme ini sedini mungkin, kita dapat menghentikan perkembangan kanker dan menyelamatkan nyawa," ujarnya.
Mekanisme Penemuan Pencegahan Sel Kanker Payudara
Penelitian menunjukkan bahwa kanker dapat mengubah metabolisme tubuh dengan memengaruhi jenis sel imun tertentu, sehingga memicu pelepasan metabolit penting yang disebut urasil. Para ilmuwan berhasil menghentikan proses pembentukan urasil pada tikus percobaan dengan memblokir enzim uridin fosforilase-1 (UPP1), yang kemudian berperan menghasilkan urasil. Langkah ini berhasil memulihkan fungsi sistem imun untuk melawan sel kanker sekunder dan mencegah penyebaran kanker atau metastasis.
Penemuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan alat deteksi dini dan terapi baru yang efektif. Melalui pendeteksian kadar urasil dalam darah, penyebaran kanker bisa diidentifikasi sejak awal. Selanjutnya, pemberian obat yang menghambat aktivitas UPP1 berpotensi menghentikan metastasis sebelum terjadi. Tim peneliti juga menemukan bahwa tingginya kadar protein UPP1 berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyebaran beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, sehingga menjadikan penyakit ini sulit disembuhkan.
Potensi Pengembangan Obat Baru
Pada percobaan dengan tikus, penghambatan UPP1 sebelum munculnya kanker payudara sekunder berhasil mengurangi jumlah tumor dan meningkatkan respons imun di paru-paru. Para ahli menegaskan pentingnya penelitian lanjutan untuk mengembangkan temuan ini menjadi obat yang mampu menghentikan kanker payudara sekunder, bahkan kemungkinan kanker sekunder pada organ lain. Saat ini, tim juga sedang mendalami mekanisme UPP1 dalam mengubah perilaku sel imun, mengeksplorasi peran metabolisme sel imun pada tahap awal kanker payudara, serta menguji efektivitas obat penghambat metabolisme sel imun untuk mencegah kanker berkembang.
Risiko dan Gejala Kanker Payudara
Risiko kanker payudara cenderung lebih tinggi pada wanita berusia di atas 50 tahun, terutama saat memasuki masa menopause. Gejala awal penyakit ini biasanya ditandai dengan munculnya benjolan di payudara atau ketiak, perubahan ukuran atau bentuk payudara, serta keluarnya cairan dari puting susu. Tanda-tanda lain yang patut diwaspadai meliputi adanya lesung pipit, ruam atau kemerahan pada kulit, serta kulit puting yang bersisik, berkerak, atau terasa gatal.
Meskipun berbagai badan amal kanker telah mengingatkan pentingnya pemeriksaan payudara secara rutin, data menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga wanita di Inggris belum melakukan pemeriksaan mandiri secara berkala. Pemeriksaan dini sangat penting untuk mendeteksi kanker sejak dini dan meningkatkan peluang kesembuhan.

0 Komentar