"Kami Ditembaki Saat Lapar": Laporan PBB, 1.373 Warga Gaza Tewas di Titik Bantuan

Featured Image

Kehilangan Nyawa Akibat Kelaparan di Gaza

Adel Madi, seorang pria berusia 27 tahun, meninggal dunia di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, bukan karena serangan langsung, melainkan akibat kelaparan yang berkepanjangan. Tubuhnya hanya tinggal kerangka, ototnya meranggas, kulitnya kaku, dan matanya kehilangan sinar. Keadaannya memprihatinkan, menunjukkan betapa parahnya situasi di Gaza saat ini.

Sementara keluarganya berdoa untuk bantuan makanan dan obat-obatan, dunia menyaksikan bahwa di Gaza, lapar bisa berujung pada kematian, dan antre makanan bisa dibalas peluru. Menurut laporan dari Quds News Network, Adel meninggal akibat malnutrisi parah, kekurangan obat-obatan, serta infeksi yang tidak terobati. Ia menjadi salah satu dari banyak warga Gaza yang kehilangan nyawa bukan di medan perang, tetapi di ranjang rumah sakit yang tidak lagi memiliki logistik dasar.

Korban Tewas Saat Mencari Bantuan Makanan

Laporan resmi yang dikutip oleh AFP menunjukkan bahwa sejak 27 Mei 2025, setidaknya 1.373 warga Palestina tewas saat mencoba mengakses bantuan makanan di Gaza. Sebagian besar kematian itu disebabkan oleh militer Israel. PBB mencatat bahwa 859 orang tewas di sekitar pusat distribusi bantuan, sementara 514 lainnya tewas dalam perjalanan menuju titik distribusi. Mayoritas korban adalah warga sipil yang kelaparan dan tidak bersenjata.

Titik bantuan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF) menjadi tempat kematian bagi banyak warga. Meskipun GHF disebut mendapat dukungan dari AS dan 'Israel' penjajah, penyaluran bantuan dilakukan tanpa koordinasi dengan PBB. PBB mempertanyakan netralitas dan prosedur pengamanan GHF. Meski GHF membantah adanya penembakan di titik distribusinya, saksi mata dan laporan jurnalis di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Pengalaman Horor di Titik Distribusi Bantuan

Seorang jurnalis bernama Anas Al-Sharif mengungkapkan bahwa salah satu korban selamat di Al-Sudaniyya mengatakan kepada dia bahwa tentara 'Israel' menggunakan peredam senjata saat menembaki warga yang kelaparan. Video yang diunggah oleh akun @QudsNen menampilkan momen mengharukan: anak-anak bersorak histeris saat ayah mereka membawa pulang sekotak bantuan makanan—untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. Namun, ada juga video memilukan lainnya: seorang gadis kecil terluka parah setelah ditembak drone 'Israel penjajah', peluru bersarang di antara tengkoraknya.

Hancurnya Lingkungan dan Kehilangan Jiwa

Lingkungan Al-Zaytoun di selatan Kota Gaza hancur lebur pasca penarikan sebagian pasukan Israel. Kamera drone memperlihatkan skala kehancuran total—tanpa air, listrik, atau akses medis. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan, pada Jumat, setidaknya 11 orang tewas akibat serangan 'Israel'. Lima orang di Khan Younis, empat orang di Deir el-Balah, dan dua lainnya ditembak saat menunggu bantuan makanan di dekat titik distribusi GHF.

“Mereka ditembak saat berdiri dalam antrean bantuan,” kata Mahmud Bassal, juru bicara badan pertahanan sipil Gaza kepada AFP.

Kondisi Kritis di Gaza

Hampir dua tahun genosida membuat Gaza lumpuh total. Blokade ketat Zionis menghambat masuknya makanan, obat-obatan, solar, dan logistik medis. Rumah sakit tidak lagi bisa mengoperasikan generator, operasi darurat ditunda, dan ribuan pasien kini hanya bisa menunggu takdir. Situasi ini menunjukkan betapa buruknya kondisi kemanusiaan di Gaza, di mana bahkan bantuan makanan dan obat-obatan tidak bisa sampai ke tangan yang membutuhkan.

Posting Komentar

0 Komentar