
Studi Baru Menunjukkan Manfaat Berjalan Cepat untuk Kesehatan Masyarakat
Selama ini, manfaat berjalan kaki telah menjadi topik yang sering dibahas oleh para ahli kesehatan. Namun, sebagian besar bukti ilmiah yang tersedia berasal dari kelompok masyarakat kulit putih dengan pendapatan menengah hingga tinggi. Kini, dua studi baru yang dilakukan di Amerika Serikat berhasil memperluas cakupan penelitian tersebut ke kelompok yang lebih rentan terhadap penyakit kronis—yaitu masyarakat berpenghasilan rendah dan kelompok kulit hitam di wilayah tenggara AS.
Hasilnya sangat mengejutkan: berjalan cepat selama 15 menit setiap hari bisa menurunkan risiko kematian akibat berbagai sebab hingga hampir 20 persen. Ini bukan hanya kabar baik bagi individu, tetapi juga peluang untuk mengatasi ketimpangan kesehatan yang masih lebar antar kelompok sosial.
Studi Lapangan: Jalan Kaki dalam Kehidupan Nyata
Temuan ini berasal dari Southern Community Cohort Study (SCCS), salah satu studi terbesar tentang kesehatan di komunitas yang kurang terlayani di Amerika Serikat. Antara tahun 2002 hingga 2009, sekitar 85.000 orang dewasa berusia 40 hingga 79 tahun ikut serta dalam studi ini, dengan 86 persen di antaranya berasal dari klinik kesehatan masyarakat di 12 negara bagian tenggara AS.
Untuk analisis terbaru, para peneliti dari Universitas Vanderbilt yang dipimpin oleh epidemiolog Wei Zheng dan peneliti doktoral Lili Liu menganalisis data dari 79.856 partisipan yang melaporkan secara rinci kebiasaan jalan kaki mereka sehari-hari. Mereka membedakan antara jalan kaki lambat (misalnya berjalan santai, ke tempat kerja, atau olahraga ringan) dan jalan cepat (seperti naik tangga atau jalan cepat sebagai olahraga).
Dengan mencocokkan laporan tersebut dengan data kematian dari tahun 2002 hingga 2022, para peneliti mencatat sebanyak 26.862 kematian dalam periode waktu rata-rata 16,7 tahun.
Jalan Cepat, Manfaat Besar
Dari hasil analisis, para peneliti menemukan bahwa berjalan cepat selama 15 menit sehari dikaitkan dengan penurunan risiko kematian sebesar 19 persen. Sementara itu, berjalan lambat lebih dari tiga jam sehari hanya memberikan manfaat yang jauh lebih kecil.
“Ini adalah salah satu dari sedikit studi yang mengukur efek jalan kaki harian terhadap kematian pada populasi berpenghasilan rendah dan mayoritas kulit hitam di AS,” ujar Wei Zheng. “Dengan menunjukkan manfaat dari jalan cepat—aktivitas murah dan mudah diakses—kami memberikan bukti langsung yang bisa dijadikan dasar intervensi dan kebijakan kesehatan masyarakat.”
Yang menarik, manfaat jalan cepat ini tetap konsisten bahkan setelah memperhitungkan faktor gaya hidup lainnya seperti merokok, pola makan, indeks massa tubuh, pendidikan, dan aktivitas fisik lain di waktu luang.
Bahkan pada partisipan yang sudah rutin berolahraga, menambahkan jalan cepat dalam rutinitas mereka tetap memberikan penurunan risiko kematian. Artinya, intensitas lebih penting daripada durasi aktivitas.
Menjaga Jantung, Memperpanjang Usia
Manfaat paling menonjol dari jalan cepat tampak pada penurunan kematian akibat penyakit kardiovaskular—penyebab kematian nomor satu di Amerika Serikat. Ini sejalan dengan bukti fisiologis bahwa jalan cepat meningkatkan kinerja jantung, memperbaiki aliran oksigen, dan membantu mengontrol berat badan, tekanan darah, serta kadar kolesterol.
“Jalan cepat adalah aktivitas yang mudah diakses, berdampak rendah, dan cocok untuk semua usia dan tingkat kebugaran,” kata Zheng.
Kenapa Jalan Kaki Tidak Semudah Itu
Meski terdengar sederhana, tidak semua orang memiliki akses untuk berjalan cepat dengan aman. Banyak lingkungan berpenghasilan rendah yang tidak memiliki trotoar, penerangan jalan, atau jalur hijau. Masalah keamanan, lalu lintas padat, dan polusi udara juga menjadi hambatan tambahan.
Selain itu, mereka yang bekerja shift panjang atau tidak memiliki akses ke layanan kesehatan akan lebih sulit menyisihkan waktu dan energi untuk berolahraga.
Namun, justru karena kesederhanaannya, jalan cepat menjadi solusi yang bisa disesuaikan di berbagai konteks. “Kampanye kesehatan dan program komunitas bisa menekankan pentingnya jalan cepat sebagai strategi kesehatan murah dan efektif,” kata Lili Liu. “Orang-orang sebaiknya mencoba memasukkan aktivitas fisik yang lebih intens dalam rutinitas mereka.”
Apa yang Bisa Dilakukan Dokter dan Pemerintah
Bagi dokter, rekomendasi yang paling jelas adalah: resepkan kecepatan, bukan hanya jumlah langkah. Saran seperti “jalan cepat 15 menit sehari” lebih mudah diingat, terukur, dan tidak menakutkan bagi pasien yang belum terbiasa berolahraga.
Dari sisi kebijakan, hasil studi ini memperkuat pentingnya investasi dalam infrastruktur yang mendukung aktivitas berjalan kaki: trotoar yang aman, jalur pedestrian yang terang, taman yang layak, dan pengurangan kecepatan lalu lintas—terutama di wilayah yang mengalami kesenjangan kesehatan paling besar.
Lembaga kesehatan masyarakat juga bisa melirik intervensi di tempat kerja. Banyak partisipan SCCS yang bekerja dalam sistem upah per jam dan memiliki fleksibilitas waktu yang minim. Menyediakan rute jalan aman atau waktu istirahat untuk berjalan cepat bisa menjadi investasi yang meningkatkan kesehatan sekaligus produktivitas karyawan.
Keterbatasan Studi
Peneliti mengakui bahwa data tentang kebiasaan berjalan kaki hanya dikumpulkan di awal studi, sehingga perubahan kebiasaan selama hampir dua dekade tidak tercatat. Selain itu, survei tidak bisa mencatat panjang langkah, medan, atau tanjakan, yang semuanya memengaruhi tingkat usaha.
Namun, skala studi yang sangat besar, durasi pengamatan yang panjang, dan keberagaman ras menjadikan temuan ini sangat kuat. Karena data kematian diambil dari National Death Index, risiko kesalahan klasifikasi hasil juga sangat kecil.
Memang penyakit jantung dan metabolik tidak bisa diselesaikan hanya dengan jalan kaki. Tapi di tempat-tempat di mana akses ke layanan kesehatan terbatas dan keanggotaan gym mahal, kebiasaan berjalan cepat bisa menjadi “obat rakyat” paling demokratis yang tersedia.
Seperti yang ditegaskan para peneliti, 15 menit jalan cepat setiap hari bukanlah “lebih baik daripada tidak sama sekali”—tetapi bisa menjadi perbedaan antara kematian dini dan hidup lebih panjang, terutama bagi puluhan jutaan warga berpenghasilan rendah di seluruh dunia.

0 Komentar