Mengapa Kesehatan Reproduksi Saat Remaja Penting dan Cara Ganti Pembalut yang Benar

Mengapa Kesehatan Reproduksi Saat Remaja Penting dan Cara Ganti Pembalut yang Benar

Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi pada Remaja

Menyampaikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi kepada remaja merupakan langkah penting dalam membangun kebiasaan hidup yang sehat dan berkelanjutan. Masa remaja adalah waktu yang sangat strategis untuk memberikan pemahaman mengenai perubahan fisik, hormonal, serta identitas seksual. Dengan begitu, remaja akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Dalam upaya ini, tim dosen dan mahasiswa dari Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya memberikan penyuluhan kepada siswa-siswi SMAN 1 Gondang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Tema edukasi yang disampaikan mencakup pengenalan kesehatan dan keganasan saluran reproduksi wanita, tetapi juga tidak lupa memberikan informasi penting bagi remaja putra.

Perubahan Fisik dan Risiko yang Mengintai

Remaja adalah usia di mana terjadi perubahan fisik dan hormonal yang signifikan. Pada tahap ini, mereka mulai memahami identitas seksual dan risiko yang terkait dengan kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, menjaga kesehatan reproduksi secara dini sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup jangka panjang.

Data menunjukkan bahwa 1 dari 20 remaja terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS) setiap tahun. Selain itu, kanker serviks menjadi penyakit pembunuh nomor dua pada wanita di Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa urgentnya edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja.

Tantangan dalam Akses Informasi dan Layanan

Meskipun penting, akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi masih menghadapi berbagai tantangan. Data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan adanya kesenjangan, terutama di daerah terpencil dan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, diharapkan para remaja, khususnya perempuan, mampu menjaga kesehatan reproduksinya dengan cara-cara sederhana seperti menjaga kebersihan area vital dan menghindari perilaku yang dapat memicu penyakit.

Tips Menjaga Kebersihan Area Kewanitaan

Dr. Dyah Fauziah, dr., Sp.P.A., Subsp. S.M. menjelaskan bahwa ada tiga hal utama yang memengaruhi kesehatan reproduksi, yaitu kebersihan, tumor ganas atau jinak, serta penyakit infeksi seperti PMS. Beberapa tips untuk menjaga kebersihan antara lain:

  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut.
  • Mengganti pembalut minimal empat hingga enam jam sekali atau setiap penuh.
  • Memperbanyak minum air untuk mencegah dehidrasi selama menstruasi.
  • Membuang sampah pembalut dalam wadah tertutup agar darah tidak tercecer.
  • Hindari penggunaan pembalut dengan aroma karena bisa menyebabkan iritasi.

Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Kesehatan Reproduksi

Selain kebersihan, gaya hidup juga memegang peran penting dalam menjaga kesehatan reproduksi. Remaja disarankan untuk menjaga bentuk tubuh ideal melalui olahraga rutin, aktivitas fisik yang cukup, serta pola makan yang seimbang. Obesitas dapat menjadi faktor risiko untuk PCOS, gangguan hormon yang menyebabkan haid tidak lancar, jerawat, tumbuh bulu berlebihan, dan infertilitas.

Bahaya Penyakit Menular Seksual (PMS)

Alphania Rahniayu, dr., Sp.P.A., Subsp. D.H.B(K) menekankan pentingnya edukasi mengenai bahaya PMS. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual dan kelalaian dalam menjaga kebersihan. Faktor risikonya antara lain seks usia muda, sering berganti pasangan, penggunaan jarum suntik, narkotika, dan alat cukur bersama.

WHO merekomendasikan vaksinasi Human Papiloma Virus (HPV) kepada anak-anak dan remaja sebelum aktif secara seksual. Vaksin ini bertujuan mencegah risiko kanker serviks dan kanker lain yang disebabkan oleh HPV. Untuk wanita yang sudah aktif secara seksual, disarankan melakukan papsmear setidaknya satu tahun sekali untuk mendeteksi kelainan pada serviks.

Risiko Kanker Penis pada Laki-Laki

Tidak hanya perempuan, laki-laki juga berisiko mengalami kanker penis. Penyebab utamanya adalah infeksi virus HPV tinggi risiko. Faktor risikonya antara lain belum sunat dan sering berganti-ganti pasangan. Gejalanya meliputi tumbuh massa seperti bunga kol, mudah berdarah, dan berbau.

Respons Positif dari Siswa dan Sekolah

Penyuluhan yang dilakukan pada 16 Juli 2025 mendapatkan respons positif dari para siswa maupun pihak sekolah. Mereka sangat antusias dengan wawasan baru tentang menjaga kebersihan dan kesehatan reproduksi. Dengan edukasi yang tepat, diharapkan remaja akan lebih sadar dan proaktif dalam menjaga kesehatan diri sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar