5 Kebiasaan Hemat Era 70-an yang Harus Kembali Jadi Tren

Featured Image

Membangun Kebiasaan Hemat dari Era 1970-an

Banyak orang berpikir bahwa keuangan yang sehat hanya tergantung pada penghasilan yang besar. Namun, kenyataannya, hal tersebut lebih berkaitan dengan cara kita mengelola konsumsi dan membangun hubungan yang lebih bijak dengan uang. Dalam era di mana iklan digital sering kali memengaruhi keputusan belanja, penting untuk mulai memilih dengan sadar, bukan hanya bereaksi terhadap tawaran yang muncul di layar ponsel.

Generasi sekarang cenderung lebih mudah membuang barang yang masih dalam kondisi baik. Ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, yang menjadikan penghematan sebagai bagian dari gaya hidup. Mereka menjaga barang-barang lama, menyimpan benda-benda bekas, dan merencanakan setiap pembelian dengan hati-hati. Di masa kini, dengan adanya pengiriman instan dan produk yang dirancang untuk rusak cepat, banyak orang merasa tidak aman secara finansial.

Namun, solusi mungkin tidak selalu terletak pada aplikasi keuangan terbaru. Justru, kebiasaan sederhana yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bisa menjadi kunci untuk menciptakan kestabilan finansial. Berikut lima kebiasaan hemat dari era 1970-an yang layak dihidupkan kembali:

Menanam Makanan Sendiri (Bahkan di Lahan Mini)

Dulu, memiliki kebun sayur kecil di halaman belakang adalah hal biasa. Bahkan selama Perang Dunia II, "Victory Gardens" memberikan kontribusi besar dalam pasokan makanan. Meski tidak semua orang memiliki lahan luas, menanam tanaman herbal di jendela atau tomat dalam pot tetap bisa membantu menghemat pengeluaran.

Menanam sendiri tidak hanya mengurangi biaya makanan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap makanan. Misalnya, dua pot kecil kemangi dan mint bisa menghemat ratusan ribu rupiah per tahun. Selain itu, kepuasan akan hasil panen sendiri juga sangat istimewa—tidak ada yang bisa mengalahkan rasa salad dari daun yang kamu tanam sendiri.

Memperbaiki, Bukan Langsung Mengganti

Generasi sebelumnya terbiasa memperbaiki barang sebelum membeli yang baru. Ketika pemanggang roti rusak, mereka ganti kabelnya. Ketika tuasnya lengket, mereka bersihkan mekanismenya. Kini, kecenderungan untuk langsung mengganti barang rusak sudah menjadi norma. Layar ponsel retak sedikit—langsung beli baru. Celana jeans sobek—waktunya belanja.

Padahal, banyak perbaikan jauh lebih mudah daripada yang dibayangkan. Cukup cari video tutorial, ambil obeng, dan sisihkan sedikit waktu. Bonusnya, kamu juga mulai memandang barang-barang dengan cara berbeda—lebih menghargai dan lebih bijak.

Merencanakan Makanan dan Memasak dari Awal

Berapa kali kamu berdiri di depan kulkas pukul 6 sore, bengong, lalu akhirnya pesan makan? Pada era 1970-an, merencanakan makanan adalah rutinitas, bukan tren. Orang-orang mengatur menu mingguan, membuat daftar belanja, dan memasak dari awal. Itu bukan hal luar biasa—itu gaya hidup biasa.

Kini, merencanakan makan bisa terasa seperti PR. Tapi begitu terbiasa, keuntungannya jelas: pengeluaran makanan jadi lebih terkontrol, bahan tidak terbuang, dan memasak terasa lebih menyenangkan, bukan beban. Mulailah dari yang simpel. Pilih tiga resep favorit, rencanakan satu minggu ke depan, dan perlahan-lahan kembangkan kebiasaan ini. Selain hemat, kamu juga tahu persis apa yang masuk ke dalam tubuh.

Menabung Secara Konsisten dari Setiap Gaji

Pada masa lalu, menabung 10–20% dari pendapatan bukanlah saran dari influencer finansial—itu hanya hal yang dilakukan orang dewasa. Hari ini, kebanyakan orang hidup dari gaji ke gaji. Uang masuk, lalu dibelanjakan, dan baru menabung kalau ada sisa. Masalahnya: sering kali tidak ada yang tersisa.

Kebiasaan masa lalu justru sebaliknya: sisihkan tabungan lebih dulu, baru gunakan sisanya untuk kebutuhan. Kuncinya adalah membuatnya otomatis. Atur transfer tetap ke tabungan setiap bulan—bahkan 5% pun jauh lebih baik daripada nol. Ketika tabungan jadi prioritas, pengeluaran otomatis jadi lebih selektif. Bukan karena merasa kekurangan, tapi karena lebih sadar mana yang benar-benar penting.

Membeli Barang Berkualitas yang Tahan Lama

Dulu, orang menabung untuk membeli barang yang awet. Mantel musim dingin bagus bisa dipakai hingga dua dekade. Filosofinya sederhana: beli sekali, pakai lama. Sekarang, model keusangan terencana membuat kita terbiasa membeli murah dan sering—padahal seringkali justru lebih boros.

Sepatu bot seharga Rp300 ribu yang rusak dalam 8 bulan, dalam dua tahun bisa habis tiga pasang. Bandingkan dengan satu pasang seharga Rp1 juta yang awet lima tahun lebih. Triknya: ubah cara pandang dari “harga per barang” menjadi “biaya per penggunaan”. Beli dengan niat tahan lama. Tidak harus mahal, tapi harus berkualitas.

Lima kebiasaan dari tahun 1970-an ini bukan sekadar tentang menghemat uang, tapi tentang menciptakan gaya hidup yang lebih sadar, lebih menghargai, dan lebih stabil. Mungkin masa lalu tidak sempurna, tapi ada kebijaksanaan yang patut kita bawa kembali. Karena terkadang, langkah maju yang paling bijak justru dimulai dengan sedikit mundur ke belakang.

Posting Komentar

0 Komentar